@BISIKDUSTA

YOHAN,

sayap patahnya Bunda.


CUNNING


SHREWD

SLY

DEXTEROUS

serangkai bantuan, bilamana ingin berkenalan dengannya.

Profil

PROFIL

Kisah

KISAH

Serba-serbi

SERBA-SERBI

Relasi

RELASI

DATA DIRI

Nama lengkapYohanes Jayantaka Harimurti
Nama panggilanYohan, Han
Tempat lahirDI Yogyakarta
Tanggal lahir13 September
Usia25 tahun
Jenis kelaminPria
Golongan darahB+
Pekerjaancon artist Pebisnis
Orientasi seksualPanseksual demiromantik

Sering disapa sebagai Yohan, adalah seorang lelaki yang kini menetap di daerah Jakarta Selatan. Kerap memperkenalkan diri sebagai seorang pebisnis, benar adanya bahwa Yohanes adalah pemilik sebuah firma yang menangani konsultasi keuangan di bilangan Jakarta Pusat. Benar adanya pula, bahwa Yohanes adalah seorang penipu yang telah beberapa kali menyelenggarakan investasi bodong, perjudian, serta kebohongan-kebohongan kecil yang tidak lagi ia hitung jumlahnya, tapi, tentu Yohanes tidak akan pernah mengakuinya. Bahkan tidak ketika ada pistol di mulutnya, apalagi ketika ada jaksa di hadapannya.

PERAWAKAN

Warna mataCokelat (lensa kontak hijau)
Warna rambutHitam (diwarnai pirang)
Tinggi badan185 cm
Berat badan64 kg
Bentuk badanMesomorph
Tanda istimewaSejumlah tahi lalat di wajah

Berbanding terbalik dengan kepribadiannya, Yohan seringkali memperoleh pujian soal parasnya yang dibilang menyerupai malaikat. Senang bergonta-ganti gaya dan warna rambut, ia cukup nyaman dengan penampilan platinum blonde yang tampak serasi dengan kulitnya, menambah kesan awet muda ketika ia mengenakan busana andalannya: gaya light academia dengan paduan warna bumi.

YOHAN,

malaikat kecil kesayangan Bunda.

Tidak bergelimang harta benda, tidak berarti sengsara. Keluarga kecil di Yogyakarta yang terdiri dari Ayah, Bunda, dan Yohan, hidup sederhana berkecukupan di rumah mungil namun hangat mereka. Ayah bekerja di sebuah perusahaan konveksi tak jauh dari jantung kota, Bunda mengurus rumah, dan Yohan bertanggung jawab penuh atas unsur kelucuan dan kebahagiaan di keluarga mereka. Anak lelaki tunggal yang ceria, manis tutur katanya. Anak lelaki tunggal yang perhatian, selalu mencium puncak kepala Ayah sebelum pukul 7 pagi ditinggal berangkat bekerja. Anak lelaki tunggal yang penyayang, selalu mencium pipi Bunda sebelum pukul 9 malam beranjak tidur nyenyak.Anak lelaki tunggal yang perasa, selalu merangkul dan memeluk Bunda yang gemetar hebat menangisi kuburan Ayah.Satu kelalaian pengendara mobil di jalanan Yogyakarta pada suatu petang, dan hidup mereka berubah, terhempas dari aksisnya. Ayah direnggut nyawanya dalam suatu kecelakaan lalu lintas sepulang bekerja, meninggalkan Bunda dan malaikat kecil mereka, Yohan. Rasanya berbeda tanpa Ayah. Rasanya berbeda hanya berdua saja. Rasanya hampa, tapi Yohan tidak akan pernah mengatakannya. Yang Yohan katakan adalah, “Bunda, Yohan sayang Bunda, sayang Ayah. Jangan tinggalkan Yohan juga, ya? Yohan janji akan jadi anak yang baik, penurut sama Bunda. Jadi, Bunda jangan sedih lagi … Yohan tetap di sini, kan, nemanin Bunda?”

YOHAN,

malaikat kecil pendamping Bunda.

Bunda takut. Bunda takut tidak sanggup melanjutkan hidup di rumah yang dibangun dengan cita-cita tumbuh tua bersama Ayah, tanpa sosok Ayah di sampingnya. Bunda takut setiap sudut kota kelahirannya akan mengingatkan soal Ayah, sehidup sematinya. Bunda takut di Jogja tidak ada lowongan kerja untuknya yang sanggup menafkahi Yohan, jantung hati sekaligus malaikat kecilnya. Berbekal rasa takut itulah, dan sebuah keberanian pun tekad untuk melanjutkan hidup, Bunda jual rumah mereka di Yogyakarta untuk pindah menyambung hidup di ibukota. Semua ada di Jakarta, kata orang.Tapi orang tidak pernah bilang, di Jakarta juga ada keputus asaan yang jauh lebih mengerikan ketimbang di kota lainnya.Uang waris peninggalan Ayah, ditambah uang penjualan rumah di Yogyakarta, hanya bisa ditukar dengan sepetak rumah tanpa kamar tidur di Jakarta. Usia Yohan belum genap 6 tahun ketika ia dan Bunda pertama kali menginjakkan kaki di hunian baru mereka, namun dekapan Yohan begitu hangat dan penuh pengertian, berbelas kasih tanpa kecewa. Bunda tidak sempat bertanya, tapi Yohan mengerti, “Bunda, Yohan senang, kok, tidur di lantai. Lebih adem. Bunda enggak usah belikan kasur untuk Yohan. Uangnya disimpan saja.”

YOHAN,

malaikat kecil prioritas Bunda.

Jakarta membuat Bunda semakin kuat, teguh, dan berani. Berbulan-bulan membawa ijazah SMA ke sana kemari tidak kunjung membuahkan hasil, dan Bunda tidak sampai hati kalau keleletannya membuat pipi tembam malaikat kecilnya hilang, membuat perut bulat malaikat kecilnya hilang, membuat malaikat kecilnya hilang. Lantas Bunda semakin nekad, menjadi buruh cuci untuk tetangga. Ketika Yohan masuk SD dan menghadiahinya nilai-nilai sempurna, menghadiahinya senyum manis bangga, Bunda bersumpah dalam hati, ia akan melakukan segalanya demi malaikat kecilnya.Yohan anak yang cerdas, Bunda dengar dari guru-gurunya. Anak cerdas harus disediakan fondasi yang kuat supaya bisa tumbuh sesuai potensialnya, dan fondasi yang pantas untuk jantung hatinya tidak bisa Bunda beli dengan upah mencuci semata. Butuh uang untuk mendaftar lomba, butuh ongkos untuk mendaftar beasiswa, butuh pendapat lebih untuk memastikan Yohan bisa tumbuh lebih baik dari Bunda dan Ayah. Butuh teguran dari Bunda untuk mengingatkan bahwa “Yohan, sayapnya Bunda. Nak, mencari uang itu kewajiban Bunda. Kewajiban kamu belajar dan kasih tahu kalau perlu apa-apa. Kamu sekolah yang baik dan jujur, Bunda bekerja yang baik dan jujur.”Sayang, di suatu titik, Bunda harus mulai berbohong pada Yohan. Menjadi buruh cuci tidak bisa melanjutkan hidup mereka berdua, hingga Bunda harus gunakan tubuhnya dengan cara berbeda supaya dapat uang. Yohan, malaikat kecil yang jadi alasan Bunda masih hidup sampai titik ini, tidak perlu tahu kalau Bunda terpaksa jual diri. “Pokoknya Yohan belajar, angkat derajat kita, ya, sayang.”

YOHAN,

sayap patah Bunda.

Yohan duduk di bangku SMP, ketika Bunda akhirnya mengaku tubuhnya tak lagi sesehat yang dulu, tak lagi sekuat yang dulu. Beragam kerja serabutan dan malam-malam gelap di dekapan pelanggan telah mengirimkan ganjarannya pada Bunda, tubuhnya terlalu renta untuk usianya yang baru awal kepala empat, hatinya lirih ketika malaikat kecilnya menyuapi, merawat, dan mengurusi Bunda yang seketika jatuh sakit. Yohan harus sekolah dan mengurus rumah sepetak mereka, tapi kini Bunda juga membebaninya, malaikat kecil Bunda.Yohan terus mengingatkan Bunda, “Enggak boleh mikir macam-macam, aku juga sayang Bunda, lebih dari apapun di dunia. Bunda hanya perlu kuat.” Biar Yohan balas budi, dan gantian rawat Bunda, ingin ia katakan demikian, namun kesempatan itu tak pernah sempat ia dapatkan. Bunda sudah kuat begitu lama, ketika itu Yohan duduk di kelas 10 SMA, ketika Bunda akhirnya memilih untuk kalah.Yohan ditinggal mati Bunda, sebatang kara.Tolol. Tolol, raung Yohan setiap harinya. Ia cerdas dan peka, lantas mengapa selama ini dia turuti saja kemauan Bunda, padahal konsekuensinya jelas? Belajar yang baik dan jujur, angkat derajat Bunda. Lantas sekarang, untuk apa? Satu-satunya yang Yohan angkat adalah peti mati Bunda.Semua ketekunan Yohan, belajar dengan baik dan jujur, tidak berhasil memberikan apa-apa pada Bunda. Akselerasi, beasiswa, juara kelas, semuanya tidak menyelamatkan Bunda dari nasibnya. Yohan muak, muak dengan ketaatannya yang tidak membawakan apa-apa. Kalau memang ujung-ujungnya Yohan sendirian begini, sekalian saja ia kacaukan hidupnya.

KEPRIBADIAN

Extroverted61%39%Introverted
Intuitive63%37%Observant
Thinking83%17%Feeling
Judging21%79%Prospecting
Assertive58%42%Turbulent

TRIVIA

  • Mengikuti program akselerasi sewaktu SMP, sehingga ia berhasil menyelesaikan sekolah setahun lebih awal.

  • Lulusan Sastra Inggris Universitas Indonesia.

  • Pekerjaannya bisa dibilang macam-macam, apa saja dicoba. Dicoba dengan main-main, dengan tipu sana-sini.

  • Sewaktu ikut lomba tingkat internasional di SMA, pernah didatangi agensi musik Korea dan ditawari menjadi trainee.

  • Tidak tertarik dengan kopi, Yohan hanya terima minuman yang manis-manis.

  • Senang gonta-ganti penampilan rambut … karena namanya juga con artist hobi saja.

  • Biarpun sekarang berlagak bebas dan tidak perasa, aslinya masih mendamba dan lemah soal keluarga.

TBA